Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

12 Syarat untuk Menjadi Wali Allah yang Pasti Anda Belum Pernah Mendengarnya

12 Syarat untuk Menjadi Wali Allah yang Pasti Anda Belum Pernah Mendengarnya

Syarat untuk Menjadi Wali Allah - Dalam al-Quran waliallah merupakan orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah subhanahu wataala. Wali Allah juga dapat dikatakan seseorang yang dekat dengan Allah karena keimanan dan ketakwaannya yang sempurna.

Sebagian ulama banyak yang berpendapat bahwa wali Allah adalah seseorang yang benar-benar merasakan kehadiran Allah subhanahu wataala di sekitarnya.

Walaupun sebenarnya keberadaan Allah itu dekat sekali dengan seorang hamba-Nya namun sedikit sekali seorang hamba yang benar-benar menyadari keberadaan-Nya.

Harta dan semua keberadaan makhluk yang ada di dunia ini baginya merasa tidak ada yang wujud kecuali Allah subhanahu wataala. Justru bagi seorang wali Allah, dia selalu asyik dan sibuk memuliakan Allah subhanahu wataala.

Berikut 12 Syarat untuk Menjadi Wali Allah yang Pasti Anda Kaget Mendengarnya

Dalam sebuah kitab hikam diceritakan bahwa ada seorang murid yang bernama Abdul-Aali yang bertanya kepada gurunya: Apa syarat yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin menjadi waliyullah?

Lalu dengan bijak gurunya menjawab: Terdapat 12 tanda bagi orang yang benar-benar berada dalam syariat, yaitu sebagai berikut.

1. Mengenal Allah subhanahu wataala

Mengenal Allah subhanahu wataala merupakan ciri atau tanda dari 12 tanda bagi orang yang benar-benar berada dalam syariat(wali).

Orang tersebut memiliki hati yang sangat mantap dalam mengenal Allah subhanahu wataala melalui semua kehidupan yang dialaminya (setiap hari) tanpa ada rasa ragu.

Bahkan semua yang dirasakan dan dialaminya (di dunia) selalu melibatkan Allah subhanahu wataala sehingga sampailah pada makom marifatullah.

2. Menjaga semua perintah Allah subhanahu wataala

Ciri atau tanda selanjutnya adalah dia selalu menjaga semua perintah Allah subhanahu wataala baik perintah sholat maupun perintah ibadah lainnya yang berupa larangan.

Selain itu, ia tidak pernah merasa terbebani dengan semua perintah atau menjalani semua larangan dari Allah terhadap dirinya. Justri dia asyik sibuk dalam melaksanakan ibadah tersebut.

3. Berpegang teguh pada sunnah Rasul shalallahu alaihi wassalama

Selain menjaga semua perintah Allah subhanahu wataala juga berpegang teguh pada sunnah Rasul shalallahu alaihi wassalama. Diantara salah satunya selalu mendawamkan alaman-amalan yang dianjurkan oleh baginda nabi Shalallahu Alaihi Wassalama.

Bahkan sampai tidak ada amalan sunnah yang ditinggalkannya juga tidak pernah meninggalkan apa yang menjadi kewajibannya dan justru ia berpikir bahwa semuanya itu semata pertolongan dari Allah subhanahu wataala.

4. Selalu memiliki wudhu

Selalu memiliki wudhu yang artinya selalu menjaga wudhunya dari pembatalan wudhu atau hal-hal yang dapat membatalkan wudhu. Jika dia batal dari wudhunya, maka tanpa panjang pikir dia langsung memperbarui wudunya.

5. Menerima hukum qadha Allah subhanahu wataala

Dalam suka duka yang dialaminya, dia yakin semua itu adalah bagian bentuk rasa sayang Allah subhanahu wataala terhadapnya. Oleh karena itu dia cenderung untuk selalu menerima dan pasrah atas semua perkara yang dialaminya.

6. Yakin terhadap semua janji Allah

Selanjutnya adalah meyakini dengan rasa mantap bahwa semua janji Allah subhanahu wataala itu benar-benar akan terjadi dan akan mengalaminya. Bahkan dia sendiri merasakannya secara jelas bahwa janji-Nya saat itu sedang berlansung.

Selain itu, tidak ada rasa sedikit pun dalam hatinya menaruh rasa ragu atas semua janji Allah subhanahu wataala.

7. Putus harapan dari semua apa yang ada ditangan makhluk

Syarat yang ketujuh adalah putus harapan dari semua apa yang ada ditangan makhluk, yang artinya tidak menyimpan rasa harapan kepada semua makhluk.

Jika dia menerima pemberian dari seseorang, maka dia beranggap bahwa pemberian itu adalah dari Allah subhanahu wataala dan dia juga tidak lupa untuk mengucapkan jazakallah khairan katsiran kepada pihak si pemberi.

8. Tabah, sabar dalam menanggung berbagai derita dan gangguan orang

Tabah dan sabar dalam menerima atau menaggung semua penderitaan yang dialaminya serta menyadari bahwa penderitaan yang dialaminya merupakan bagian dari ujian Alah di dunia atau cobaan yang diberikan Allah subhanahu wataala kepada setiap hamba-Nya.

Selain itu, tabah dan sabar dalam menerima gangguan dari orang yang jahat juga dia menerimanya dengan lapang dada bahkan sampai dia sendiri tidak pernah menyimpan rasa benci dan dendam pada orang yang sudah berbuat dzalim kepada dirinya.

9. Rajin mentaati perintah Allah

Hal ini sama seperti pada poin yang kedua, yaitu menjaga semua perintah Allah subhanahu wataala. Poin yang kesembilan ini adalah pelengkapnya, yaitu hendaknya seorang yang ingin menjadi wali-Nya, maka ia harus rajin dalam menjalankan semua apa yang diperintahkan-Nya.

Rajin disini adalah dalam melaksanakan semua amal ibadah, baik wajib maupun sunnah tanpa ada rasa dibebani dan lelah dalam melaksanakannya.

10. Kasih sayang terhadap semua makhluk Allah

Makhluk Allah subhanahu wataala yang mencakup segala sesuatu yang diciptakan, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, dan baik yang hidup maupun yang tak hidup.

Dari syarat yang kesepuluh ini artinya bahwa seorang hamba harus menyimpan rasa kasih sayang pada semua makhluk-Nya dengan tanpa membeda-bedakan.

11. Tawadhu

Rendah hati, tidak sombong, dan tidak angkuh terhadap karunia yang dimiliki disebut juga dengan tawadhu. Bahkan tidak ada rasa atau berkeinginan untuk pamer di depan masyarakat.

Karena baginya tidak pantas untuk tinggi hati, sombong, dan angkuh di setiap alam terhadap karunia yang dimilikinya. Sebab karunia tersebut adalah merupakan titipan dan pemberian semata hanya dari Allah subhanahu wataala.

12. Menyadari bahwa syaithan itu musuh utama

Syaithan adalah musuh yang nyata yang terus berusaha untuk mempengaruhi seorang hamba dengan tujuan menyesatkan hamba-Nya yang berada di jalan lurus (taqwa kepada Allah subhanahu wataala).

Oleh karena itu, seorang hamba harus dapat menyadari pada setiap menit bahkan setiap detik bahwa syaithan itu selalu berusaha untuk menyesatkannya. Disisi lain dia juga meyakini bahwa sarang atau tempatnya syaithan didalam hawa nafsu, maka sebisa mungkin untuk menekan dari semua hawa nafsu yang tidak diridhai Allah subhanahu wataala.

Demikianlah 12 syarat untuk menjadi wali Allah subhanahu wataala yang diambil dari kitab hikam. Semoga artikel ini dapat memberikan banyak manfaat.

Sumber referensi:

  • Kitab Al-Hikam yang disusun oleh Ibn Atha' Allah Aliskandary.

Post a Comment for "12 Syarat untuk Menjadi Wali Allah yang Pasti Anda Belum Pernah Mendengarnya"